Ok

By continuing your visit to this site, you accept the use of cookies. These ensure the smooth running of our services. Learn more.

05/14/2006

JAZZ

Desember 4, 2006

Salena Jones menyanyi ke udara Jakarta dalam Jakjazz 2006. Dalam rasa asyik, tiba-tiba kita merasakan seakan-akan kota ini sedang menopang sebuah musik yang menjerit, terkadang serak, melankolik. Kota ini jadi ruang di mana ada yang menjulang tak kunjung terjangkau, tapi juga ada liang di jalan yang tak diingat, gorong-gorong yang pada saat yang sama menyembunyikan celurut, sampah, dan mungkin sampar. Kota ini setengahnya sebuah tempat ekspresi, setengahnya yang lain sebuah ujian stamina.

”Kota seperti ini membuatku bermimpi muluk dan merasa dekat pada hal ihwal…,” kata sang pembawa cerita dalam Jazz, novel Toni Morrison tahun 1992. ”Baja cerah yang bergoyang di atas keteduhan di bawahnya itulah yang membuatnya demikian.”

Sang kota, ”the City”, dalam novel yang seakan-akan terdiri dari cetusan improvisasi dengan pelbagai peserta ini, adalah Harlem, New York, pada tahun 1920-an. Meskipun punya sejarah yang berbeda dengan kota mana pun, apalagi Jakarta, ia punya pola seperti Jakarta: kota yang merangsang dan sekaligus membatalkan impian.

Ia adalah tempat pelarian yang menyingkir dari muramnya hidup di pedalaman. Di Amerika Serikat masa itu, ”muram” berarti ”hitam” yang dianiaya oleh orang-orang kulit putih di wilayah Selatan. Di Indonesia masa kini, ”muram” berarti si muda yang terimpit miskin dan pengangguran. Kedua-duanya berbeda, dan perbedaan itu amat penting, tapi pada akhirnya kedua-duanya mengiris dan menorehkan kepedihan. Juga kebengisan.

Dalam Jazz, Joe Trace menyingkir dari kota kelahirannya di bagian Selatan itu, Vienna, yang habis terbakar. Api merah itu bergerak cepat, ”mengosongkan kami dari tempat kami sedemikian lekas hingga kami lari dari satu bagian ke bagian lain negeri ini—atau tak ke mana pun”. Dengan kata lain, Joe jadi bagian dari ”900 Negro, digalakkan oleh bedil dan kanabi, yang meninggalkan Vienna, naik kereta atau berjalan kaki keluar kota itu, menuju entah ke mana”.

Dengan latar Indonesia, kita bisa bayangkan sebuah eksodus yang mirip: ribuan orang yang masuk dari pedalaman, bukan karena api yang membuat habis ludes se-buah tempat, tapi karena sang Nasib seolah-olah membuat mereka terhenyak di sekitar sawah ladang yang makin sempit. Mereka datang dengan kereta api, bus, kapal, motor, truk, dan entah apa lagi, untuk kemudian menumpang tinggal di sebuah kamar dan pada esok harinya menyusuri jalan. Cari kerja, kata mereka, tapi sebenarnya juga cari diri dan kemerdekaan.

Ya, Jakarta punya Joe Trace-nya sendiri. Namanya mungkin Mat Tilas: ia yang muncul di kota ini—dengan jejak yang kumuh dan penuh lumpur dari masa lalu pedalaman—menjajakan tahu goreng Sumedang atau air minum di jalan-jalan yang macet, menawarkan parfum palsu kepada para penumpang di bandara, berjalan kaki dari kecamatan yang satu ke kecamatan lain di siang yang terik mencoba jadi juru jual pisau dapur yang tak diketahui siapa yang akan membeli, atau menyediakan jasa yang sebenarnya tak perlu untuk mengatur lalu-lintas di pengkolan yang ruwet—dan tentu saja mereka yang jadi pelacur di tepi rel kereta api di Jalan Latuharhary.

Para pembaca akan berkata, ini sebuah cerita yang begitu biasa hingga tak diacuhkan lagi—dan benar: ini sebuah klise yang, seperti tiap klise, kehilangan daya pukaunya dan tenggelam dalam bawah sadar seperti manusia-manusia yang tenggelam dari catatan kita seakan-akan ditelan gorong-gorong kota.

Tidak berarti Jakarta selamanya menakutkan. Malam hari akan datang, cahaya jalanan dan gedung-gedung akan melipur, dan sang Kota seakan-akan menyediakan sebuah musik lain: musik yang menjerit, terompet yang ditiup serak, tapi memukau, meskipun mungkin dengan tenggorokan yang berdarah.

Ada yang menyentuh, mengejutkan, dan mempesona di sana.

Dalam arti itu, riwayat seorang migran dari pedalaman mengingatkan kita akan hasrat menjangkau sesuatu dari keadaan patah harapan, sebagaimana seorang pemain musik meniti melodi melalui improvisasi, untuk mendapatkan yang paling memuaskan hati dari kepastian yang absen.

Sebab begitu pentingkah kepastian? Di kota ini, kepastian hanya terhantar pada kaki lima dan aspal jalanan. Bagi si Mat Tilas, seperti Joe Trace, seperti bagi jutaan pendatang yang lain, begitu ”sol sepatu menapak trotoar, tak ada jalan berbalik lagi… Di sana, di sebuah kota, mereka mungkin bukan diri-diri baru, tapi diri yang lebih kuat, lebih punya risiko.” Bisakah kita di sini bicara tentang kota sebagai arah yang dituju sebuah eksodus, Tanah Yang Dijanjikan oleh Tuhan bagi hamba-Nya yang dianiaya? Tidak, meskipun novel Toni Morrison agak menyarankan demikian.

Riwayat urbanisasi adalah riwayat sebuah hijrah yang sekuler, dengan hewan korban, harapan mukjizat, dan keinginan mendapat pahala yang tak henti-hentinya mengisi hidup. Seperti hijrah atau eksodus dalam agama-agama Ibrahimi, ada tujuan yang meskipun samar-samar, amat memukau. Memang yang ”sekuler” itu sangat bertaut dengan keinginan akan perbaikan hidup jasmani, tapi bukankah ”pahala” dalam kosakata keagamaan juga mengandung hasrat jasmani, semacam hadiah Lebaran?

Maka jika ada yang menonjol dalam hijrah sekuler itu bukanlah adanya keyakinan, tapi tiadanya teks suci dan kekuasaan mereka yang menjaganya. Bahkan teks suci apa pun tak akan dapat menguasai sepenuhnya liku-liku hidup orang seperti Joe Trace di New York atau Mat Tilas di Jakarta—sebagaimana halnya tak ada ortodoksi yang dapat mengendalikan nada-nada yang muncul dalam karya Theolinus Monk.

Tapi pada akhirnya, itulah yang akan selalu terjadi.

Maka ketika Salena Jones melantunkan lagu, kita tahu jazz—masih sebuah benda asing di Jakarta—di sana-sini terasa pas dengan kota ini. Jeritnya, paraunya, risaunya, khaosnya, elannya, gairahnya, juga ketidakpastiannya.

17:20 Posted in culture | Permalink | Comments (0)

The comments are closed.