Ok

By continuing your visit to this site, you accept the use of cookies. These ensure the smooth running of our services. Learn more.

08/21/2010

Omnivora

Seni jalanan memasuki ruang pameran dengan dua-tiga lapis rasa waswas. Kaum senimannya sendiri cemas bahwa kesenian mereka akan jadi jinak, lembut dan steril. Si penyelenggara pameran boleh mengira bahwa yang terpajang boleh jadi horor yang tanggung, yang tak menggentarkan tapi tak juga menghibur. Sedang para pemirsa mungkin merasa aneh berada di dunia ambang, yakni bukan di ranah seni pun bukan di jalanan.

Jika kita menyadari bahwa seni rupa jalanan adalah seni penuh paradoks, niscayalah kita mengubah rasa waswas demikian menjadi rasa girang. Melalui sejarah seni rupa kita tahu bahwa seni bisa menggali ke arah hakekatnya sendiri, menegaskan kebedaannya dengan realitas; namun bisa juga bergerak bongkar-membongkar ke arah mana saja, seakan meluas seperti kehidupan itu sendiri. Seni jalanan, yang kita saksikan sekarang, tampak nyaman tertarik-tarik oleh dua ekstrem itu. Aman nyaman berada di jalan tengah.

Akhir seni sudah tiba, kata sebagian kritikus. Seni rupa jalanan tidak menolak akhir seni, tidak juga mengiyakannya. Kaum seniman jalanan sesungguhnya adalah makhluk oportunistis yang bisa menarik pelajaran dari pasang-surut gerakan dan aliran seni dari seluruh dunia, dan pada saat yang sama mereka pura-pura melecehkan kesenian. Ketika mereka begitu telanjur dibaptis sebagai anak-anak dari budaya massa global, sesungguhnya mereka adalah binatang-omnivora yang melahap teknik dan media apa saja untuk menggencarkan produksi mereka.

Adapun katasifat “jalanan” dalam seni jalanan itu sendiri berlaku taksa. Kaum senimannya tidak memuja jalanan, tidak juga terpenjara olehnya. “Jalanan” juga berarti peluang untuk muncul di tas Hermes, mengganggu pembicaraan falsafi tentang seni, atau membuat kesenian serenyah skateboarding. Sedangkan kita sendiri sudah meramalkan kehadiran seni rupa jalanan di negeri kita sejak Gerakan Seni Rupa Baru, merasa-rasakan usikannya sejak kiprah Apotik Komik di Yogyakarta, melihatnya sendiri dengan rasa berjarak di kaki-kaki jembatan layang di Jakarta, dan akhirnya terpaksa menerimanya sebagai gerakan global jika kita membaca, misalnya, majalah Juxtapoz terbitan San Francisco.

Kita bergirang hati karena pameran ini, seraya tak berpretensi menyajikan yang baharu, membuat kita bisa memeriksa lagi bagaimana lelaku seni jalanan setelah kurang-lebih satu dasawarsa mendapat pengakuan. Dengan menampilkan mereka yang bekerja di Paris dan Jakarta, pameran ini menelisik bagaimana yang kampung dan semiurban memberi makna baru atas jalanan, juga bagaimana yang pinggiran bertukaran dengan yang pusat. Benar, seperti dikatakan kurator Alia Swastika, bahwa pameran semacam ini memperpendek jarak antara yang bergerilya dan arus utama.

Sebagaimana sudah berlaku, Komunitas Salihara tidak melihat kontradiksi antara bergerilya dan bergerak ke tengah. Kami tahu, tak sedikit seniman yang telanjur punya nama ingin juga bergerilya untuk melahirkan karya yang berbeda, yang mengganggu pasar. Tapi, di lain pihak, kita perlu juga menggali ke bawah permukaan, menemukan benih-benih baru, dan mendorongnya ke tengah orang ramai.

Demikian juga pameran seni rupa jalanan ini: ia membawa mereka yang sudah diterima baik di tengah maupun mereka yang masih bergerak liar di pinggiran. Ia mempertukarkan kedua posisi itu dengan leluasa.

Saya bergirang hati karena pameran ini menggarisbawahi posisi Komunitas Salihara sebagai pemelihara dan penyemai bunga rampai. Bunga rampai yang kami maksud adalah keragaman sumber artistik yang kita miliki serta perspektif seniman terhadapnya. Kami berupaya menampilkan karya-karya seni dari berbagai jenis dan latar belakang, yang terolah kembali ke dalam konteks dan kubutuhan yang baru. Avantgardisme mungkin sudah lewat, namun jelaslah kaum seniman harus memperbaharui diri sendiri, merumuskan kembali hubungan mereka dengan sejarah seni maupun masyarakat sekitar tanpa henti.

Demikianlah para seniman Jakarta dan Paris mengontraskan konteks bawaan masing-masing seraya mempertukarkannya. Mereka berselingkuh, saling menikmati, saling mencuri, untuk kemudian menemukan masa depan masing-masing. Saya percaya rasa was-was kita tidaklah percuma, dan rasa girang kita tidaklah berlebihan.

(Catatan: Tulisan di atas adalah pengantar untuk pameran Wall Street Art oleh para seniman Paris—Colorz, Gilbert, Kongo, Lazoo, Ceet—, New York—Sonic, dan Jakarta—Bujangan Urban, Darbotz, Nsane5, Popo, Wormo, Tutu, Kims—,di Galeri Salihara, 11 Juli-02 Agustus 2010. Foto di atas di ambil oleh Witjak Widi Cahya: Kongo, sedang menggambari dinding kaki jembatan layang di depan Cilandak Town Square, malam 9 Juli 2010.)